Open Your Eyes-Kesaksian Mu’alaf Australia

Leave a comment

Sebuah nasyid dlm bhs inggris yang sangat menarik untuk diambil hikmahnya oleh muslim dari Swedia keturunan Lebanon Maher. Unutk melihat biografinya lebih lengkap klik disini

Artist: Maher Zain
Album: Thank You Allah
Copyright: Awakening Records 2009

Berikut ini lyric yang ia bawakan,

harap di ambil hikmahnya

Caution Jangan jadika iramanya sebagai penghiburmu,tetap jadikan Qur’an sebagai sebaik2 bacaan serta di simak. Jangan terlena dengan music^^.

Look around yourselves
Can’t you see this wonder
Spreaded infront of you
The clouds floating by
The skies are clear and blue
Planets in the orbits
The moon and the sun
Such perfect harmony

Let’s start question in ourselves
Isn’t this proof enough for us
Or are we so blind
To push it all aside..
No..

We just have to
Open our eyes, our hearts, and minds
If we just look bright to see the signs
We can’t keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time.

Look inside yourselves
Such a perfect order
Hiding in yourselves
Running in your veins
What about anger love and pain
And all the things you’re feeling
Can you touch them with your hand?
So are they really there?

Lets start question in ourselves
Isn’t this proof enough for us?
Or are we so blind
To push it all aside..?
No..

We just have to
Open our eyes, our hearts, and minds
If we just look bright to see the signs
We can’t keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

When a baby’s born
So helpless and weak
And you’re watching him growing..
So why deny
Whats in front of your eyes
The biggest miracle of life..

We just have to
Open our eyes, our hearts, and minds
If we just look quiet we’ll see the signs
We can’t keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

Open your eyes and hearts and minds
If you just look bright to see the signs
We can’t keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

Allah..
You created everything
We belong to You
Ya Robb we raise our hands
Forever we thank You..
Alhamdulillah..

Sebelum beranjak, ada kisah menarik dari Australia, saudara baru kita Ruben (Abu Bakar) seorang mualaf.

Hope this will help people understand what Ruben (Abu Bakr) talked about.

Kisah lengkapnya dapat di lihat di sini:

Ada satu lagi video yang bagus^^. sedikit mengingatkan kita akan nikmat keindahan yang Allah karuniakan pada kita.

Source: http://www.youtube.com

Advertisements

Perjalanan TerAkhir..

4 Comments

Telah lama tidak ku tulis pengalamanku, perjalanan hidupku, melintasi sang waktu. Sekarang pukul 7.00 wib. Ku sedang berada di puncak tertinggi kebun teh. Kurasakan sapuan lembut sang angin dan sentuhan sang kabut gunung. Bersama teman setiaku, ku lakukan perjalanan melintasi perkebunan teh.

“ayo pek!” teriakku membakar semangant nya yang mulai kelelahan.

“sik wid! Ambegkan sik. Heh..he…”

“subhanallah, indahnya pemandangan di bawah!”

dari puncak bukit kemuning
dari puncak bukit kemuning

Dari atas kulihat hampir seluruh wilayah perkebunan teh, bahkan kota solo pun samar-samar terlihat seiring dengan mulai hilangnya sang kabut. “eh, itu khan teman2, mereka ngapain ya? Di bawah sana?”

Ucapku pada topek sambil kuarahkan tanganku kebawah. “Oh, y a tadi teman2 cewek pada mau jalan2 gitu. Itu mungkin mereka?”

OOOiiiiii!!!! Teriak kami sekeras-kerasnya. Entah mereka sadar akan keberadaan kami atau tidak. Tapi kenapa mereka lewat sana ya? Jangan jangan mereka tersesat? Pikirku. Ah gak lah, tu h mereka sudah  dekat jalan raya, dari sana mereka bisa kembali ke “green house” lagi.

Perjalanan kami lanjutkan lagi, kali ini lebih ekstrim! Setelah sampai ke atas, kami hendak kembali. Tapi tentu saja melewati rute yang berbeda! Bahkan belum terbayangkan dibenak kami apa yang akan kami hadapi di seberang.

Dari puncak gunung teh kami terus berjalan memutar, turun untuk menuju bukit yang lain di seberang.

“Ayo pek, photo aku” biasalah buat kenang-kenangan.

peace for all..

peace for all..

Sambil berpose di pinggir jurang aku mencari jalan turun. Di depan kami sudah tidak ada jalan setapak, terpaksa kami membuat jalan sendiri. Andrenalin kami mulai meningkat. Deg..deg..deg..Lompatan demi lompatan kami lakukan untuk sampai kebawah. “wid ayo ke sungai yuk!’ ajak topek padaku.

“OK, tapi biasanya kalau sungai di antara perbukitan gak ada airnya.”

Kami tetap melanjutkan perjalanan. Medan yang kami lalui pun semakin berat. Di depan kami sekarang terbentang gua yang siap kami lalui, gua yang terbuat dari kayu alami yang di umbuhi tanaman sulur dan yang lain.

terowongan alami

terowongan alam

Duri duri tajam dari tunbuhan itu siap untuk menggores kulit kami. Tanpa alas kaki dan dengan kaos lengan pendek yang ku kenakan aku masuk duluan. Seperti biasa, “Pek! Photo aku lagi!’ buat kenang2an.

Kami lalui gua itu bersama, sarang laba-laba menghalangi jalan kami. Tapi saudaraku, ia tak mau merusaknya. Kami harus mencari cara untuk melewati sarang tersebut tanpa merusaknya. Tapi terkadang kami harus merusak sarang laba-laba. ”Maafkan kami, kita sama–sama makhluk Allah” Ok” Karena medan tidak memungkinkan untuk mencari akternatif jalan lain. Di pertengahan gua, kami terkejut!. Ada jalan ke bawah, keliatannya habis di lewati orang!. Dengan semangat baru , kami lalui jalan itu. Gemericik air mulai terdengar makin dekat, dekat…dan akhirnya kami temukan sungai , hiks..hiks..akhirnya.. 😛

sejuknya air pegunungan

sejuknya air pegunungan

Alhamdulillah!! Dinginnya air telah menghilangkan kelelahan yang kami derita, serta sedikit goresan di jari topek ketika menuruni bukit tadi. Ok, kita ambil photo air tejunnya pek!! Kamu berpose ditasnya, seperti spiderman gitu….

Spider-X

Spider-X

Setelah puas bermain air, ku lihat jalan sekeliling. Kelihatannya tidak mungkin kami langsung memanjat ke atas, masih ada bekas longsoran di tepi jurang! Dan kami masih berada dibawahnya!! Semoga tidak longsor, batinku. Kami meneruskan perjalanan dengan menyusuri sungai , lagi-lagi sarang labal-aba terbentang di hadapan kami. Terpaksa kami melewatinya dari bawah, ku benamkan badanku semakin dalam, dinginnya air mulai merayap ke pahaku… suegere!!!! 😛

Ku temukan gua untuk kedua kalinya, dimana air mengalir di dalamnya. Dari kejauhan kami agak ragu, apakah kami harus melaluinya?…Andrenalin kami memuncak!!

haruskah aku..

haruskah aku..

Kami temukan jalan menuju ke puncak bukit di samping kami, kami tinggallkan sungai petualangan kami, setelah ku lalui gua keraguan tersebut. Setapak demi setapak kami daki , tiba-tiba…

“ ADA SMS!!” kulihat siapa pengirimnya, dan ternyata! Bang Fatan. “Wid, saya lupa kalo pagi ini saya ada janji dengan Tony di Solo, jadi harus segera pulang.” Itu isi sms beliau.

“Kuputuskan untuk segera kembali ke “green house”, dimana beliau menunggu.” Pek , kita harus cepat kembali!, bang fatan sudah nunggu.

Dengan kecepatan yang mulai bertambah , kami semakin semangat mendaki. Ku lihat dibawah jalan yang kami lalui ternyata ada semacam bangunan yang menghalangi sungai yang tadi kami telusuri. Entah apa itu, bentuknya seperti bendungan.

bendungan??

bendungan??

“Ku gak punya waktu untuk memikirkannya!”. Di puncak bukit kuraih HP Sony Ericson J110ku, kutelpon Bang Fatan, ku kabarkan beliau bahwa aku masih berada di gunung. “assalaamu’alaikum., afwan bang! Aku masih di puncak , biar Akhmad aja yang mengantar ya, sampai Karang Pandan

Ku kirim sms ke Akhmad untuk segera menemani Bang Fatan, sembari aku berjuang segera kembali kes ana, ku tak ingin berpisah dengan beliau tanpa sempat mengucapkan ‘”Sayonara, ma’assalamah, Zai jian”.

Segores senyum merekah dari bibir kami :P, kulihat jalan raya di bawah sana! Kami berlari tak terkendali, menuruni bukit dengan kecepatan tinggi, kami mengabaikan gaya gesek yang mulai mengelupas kaki kami sedikit demi sedikit. GLLBB sedang kami alami, GERAk LIkak likuk Berubah BerAturan membuat kami tak bisa mengurangi kecepatan, ku rasakan hentakan kaki yang sangat kuat karena menahan gaya berat badanku yang searah dengan sin ø sudut kemiringan jalan.

Sorakan penduduk sekitar ketika kami melalui mereka semakin membakar semangat kami, kecepatan kami telah mencapai puncaknya, dimana badan kami mulai terhuyung-huyung kedapan. Jika kami tidak mengangkat kaki kami, bisa dipastikan kami akan terguling-guling kebawah bersama gaya gravitasi. .Entah apa yang mereka teriakkan, cacian ataupun sorakan tidak begitu jelas di telinga kami yang bergerak mendekati kecepatan cahaya!!

Tinggal beberapa kilometer lagi kami akan sampai di “green house”, tapi topek sudah mengeluh kecapekan. Terpaksa aku meninggalkannya, ia ku suruh melintasi kebuh teh yang relative dekat, walaupun butuh waktu lebih lama.

“heh..he..heehhh ekh…. Ekh… grrrr… aurgh!!” akhirnya sampai juga. Dengan tarikan nafas panjang sepanjang perjalann kami, aku mencari di manakah sosok Bang Fatan, apakah ia telah pulang?

<waktu penulisan: 25 menit! :P>

Dari atas ku lihat hamper seluruh wilayah perkebunan the, bahkan kota solopu samar-samar terlihat seiring dengan mulai hilangnya sang kabut. “eh, itu khan teman2, mereka ngapain ya? Di bawah sana?”

Ucapku pada topek sambil kuarahkan tanganku kebawah. “Oh, y tadi teman2 cewek pada mau jalan2 gitu. Itu mungkin mereka?”

OOOiiiiii!!!! Teriak kami sekeras-kerasnya. Entah mereka sadar akan keberadaan kami atau tidak. Tapi kenapa mereka lewat sana ya? Jangan jangan mereka tersesat? Pikirku. Ah gak lah, tu mereka udah pada dekat jalan raya, dari sana mereka bias kembalai ke “green house” lagi.

Perjalanan kami lanjutkan lagi, kali ini lebih ekstrim! Setelah sampai ku atas, kami hendak kembali. Tapi tentu saja melewati rute yang berbeda! Bahakan belum terbayangkan di pikiran kami apa yang akan kami hadapi dis sberang.

Dari puncak gunung the kami teru berjalan memutar, turun untuk menuju bukit yang lain di seberang.

“Ayo pek, photo aku” biasalah buat kenang-kenangan.